Terperosok Sang Raja Eropa, Menimbulkan Zidane Sedang Diambang Neraka

Posted by Ganas003 on 22.19 in ,

Entah apa yang terjadi dengan Real Madrid di ekspresi dominan ini, sehabis pada pertandingan kemarin meraih imbang dua kali dengan skor yang sama, yakni 2-2 kala menjamu Celta Vigo di partai lanjutan La Liga, kemudian ketika menjamu Numancia di leg kedua Copa Del Rey, yang merupakan penghuni kasta kedua Liga Spanyol. Meskipun lolos ke babak selanjutnya, tetap saja torehan dua pertandingan tersebut bukan menjadi catatan baik bagi skuad Zinedine Zidane.


Skuad Madrid ekspresi dominan ini memang menuai banyak kritikan dari banyak sekali kalangan. Madridista pun juga turut mengecam dengan raihan ekspresi dominan ini. Terlebih lagi ketika dibantai habis 0-3 oleh Barcelona, pada El Clasico jilid pertama. Tak pelak ajakan untuk menggantikan Zidane pun menggaung. Tapi tidak bagi Thiery Henry, mantan striker Barcelona. Baginya, Zidane telah melaksanakan tugasnya dengan baik lewat keberhasilannya memberi banyak gelar.


Memang itu kenyataan Bung, dari dua tahun kepemimpinanya, delapan gelar sudah diberikan untuk publik Santiago Bernabeu. Namun, merosotnya penampilan Madrid ekspresi dominan ini menciptakan publik was-was, terlebih lagi di klasemen La Liga hanya bisa bertengger di peringkat 4. Nama-nama calon pengganti Zidane pun sudah dibeberkan ibarat Carlo Ancelotti, Roberto Mancini, Laurent Blanc dan Fabio Capello. Masih diisi skuad yang tak jauh berbeda dari ekspresi dominan lalu, apa yang menciptakan Madrid terjatuh?


Nampaknya Ingin Memaksimalkan Darah Muda Selagi Potensi Masih Ada


Entah apa yang terjadi dengan Real Madrid di ekspresi dominan ini Terperosok Sang Raja Eropa, Menjadikan Zidane Sedang Diambang Neraka

Sumber : ESPN.com


Mungkin ini salah satu alasannya kenapa Madrid belum cukup stabil. Karena instruktur yang permainannya dulu pernah mengantarkan Madrid memboyong Liga Champions di tahun 2001 ini, ulet menyebarkan pemain muda yang dimiliki Real Madrid. Nama-nama ibarat Dani Ceballos, Borja Mayoral, Lucas Vazquez kerap menjadi starter dan juga pelapis.


Hal ini menciptakan Madrid masih fluktuatif dari segi penampilan. Dibanding dua tahun kemudian segi kedalaman skuad Madrid bisa dibilang cukup mumpuni. Seperti Alvaro Morata, Pepe, James Rodriguez menjadi pelapis dari Karim Benzema, Cristiano Ronaldo dan Juga Isco Alcaron. Hal tersebut mengambarkan bahwa pemain utama dan pelapis mempunyai kualitas yang sama dibanding sekarang.


Real Madrid Memang Sedang Irit, Apa Malah Pelit?


Entah apa yang terjadi dengan Real Madrid di ekspresi dominan ini Terperosok Sang Raja Eropa, Menjadikan Zidane Sedang Diambang Neraka

Sumber : ESPN.com


Real Madrid pada masa Los Galaticos jilid II belanja pemain besar-besaran ibarat mendatangkan Angel Di Maria, Ricardo Kaka, Cristiano Ronaldo, James Rodriguez, Xabi Alonso dan Karim Benzema. Dengan belanja pemain top-top tersebut menciptakan Madrid menjadi tim yang ditakutkan.  Adapun di masa sekarang, Madrid lebih ekonomis dalam belanja pemain.


Sedangkan pembelanjaan musim ini hanya mendatangkan pemain muda yang lebih banyak mengisi waktu di dingklik cadangan dibanding di lapangan. Dani Ceballos ialah pola pemain yang jarang sekali diturunkan, bahkan sempat tersiar kabar pernah langgar lisan dengan Zidane di ruang ganti alasannya ialah minimnya durasi bertanding.


Taktik Tidak Begitu Berjalan Seperti Musim Lalu


Entah apa yang terjadi dengan Real Madrid di ekspresi dominan ini Terperosok Sang Raja Eropa, Menjadikan Zidane Sedang Diambang Neraka

Sumber : ESPN.com


Untuk segi taktik di ekspresi dominan ini nampaknya tidak begitu produktif bagi Real Madrid, dibanding Barcelona yang sudah menjebloskan bola ke gawang lawan sebanyak 48, bandingkan dengan Real Madrid yang hanya 32. Jelas kalah kan Bung? Hal ini mungkin bisa dimaklumi, apa lagi Gareth Bale gres sembuh dari masa cideranya.


Adapun pola serangan yang dibangun Madrid secara taktik sangat monoton. Entah dari serangan sayap atau dari lini tengah. Karena sering kali tidak membuahkan hasil. Seperti pada laga melawan Barcelona contohnya, serangan Real Madrid hanya hingga di tengah lapangan saja. Karena berhasil dipatahkan oleh Sergio Busquets dan Ivan Rakitic. Bahkan hanya 10 serangan yang berhasil hingga berada di kotak penalti Ter Stegen.


Lihatlah Barcelona, Sebagai Rival Yang Punya La Masia Tetap Masih Belanja


Entah apa yang terjadi dengan Real Madrid di ekspresi dominan ini Terperosok Sang Raja Eropa, Menjadikan Zidane Sedang Diambang Neraka

Sumber : ESPN.com


Barcelona gres saja menyelesaikan proses transfer Coutinho dari Liverpool. Bayangkan saja, lini tengah Blaugrana telah diisi Andres Iniesta, Arda Turan, Andre Gomes, Denis Suarez, Paulinho, Sergio Roberto, Andre Gomes, dan Rafinha. Bisa dibayangkan bukan kedalaman skuadnya? Terutama di lini tengah, merupakan lini yang krusial untuk membangun pola serangan.


Sedangkan Real Madrid belum juga bergetar ketika melihat pembelanjaan ini. Karena hingga di jendela transfer ekspresi dominan cuek ini, belum ada satu pemain yang dikaitkan merapat ke Madrid. Padahal banyak pemain top yang bisa diboyong, ibarat Eden Hazard, Harry Kane atau Paulo Dybala sanggup menjadi opsi untuk pembelian separuh musim.


Apakah Ini Semua Salah Zidane Bung?


Entah apa yang terjadi dengan Real Madrid di ekspresi dominan ini Terperosok Sang Raja Eropa, Menjadikan Zidane Sedang Diambang Neraka

Sumber : ESPN.com


Lantas apakah kemorosotan penampilan ini menjadi salah Zidane? Kalau Bung beranggapan iya ataupun tidak, ya sah-sah saja. Karena banyak faktor yang menciptakan Madrid kurang garang di ekspresi dominan ini. Mungkin ini bisa dikaitkan dengan agenda full yang dilakoni Madrid ibarat bertarung di La Liga, Copa Del Ray, Liga Champions, Supecopa Espana, UEFA Super Cup dan FIFA Club World Cup selama dua tahun. Bisa jadi, hal ini yang menjadi alasan para pemain kelelahan.


Selain itu, taktik yang dijalankan Madrid selama dua tahun mungkin sudah sanggup dibaca oleh tim lawan. Dan Madrid harus bisa merevolusi taktik dan juga taktik dengan memanfaatkan pemain yang dimiliki. Kalau boleh berkaca lagi-lagi dari El Clasico, kiprah Kovacic selama diturunkan sangat tidak membantu serangan, jadinya ia hanya sibuk membantu pertahanan, bukan serangan. Karena tidak ada kreasi nan kreatif yang bisa disuguhkan olehnya.