Berakhir Pekan Dengan Kopi Tradisional

Posted by Ganas003 on 22.19 in

Pergi menikmati jamuan kopi, nampaknya jadi sesuatu yang sulit kita hindari. Apa lagi bila Bung memang salah satu penggila kopi yang terbilang expert. Menjadi cuilan dari diri, beberapa sobat mengaku lebih menentukan tak makan nasi asal minum kopi.


Minuman hitam dengan rasa yang cenderung pahit ini memang kolam candu, bahkan sering menciptakan rindu. Beberapa tahun terakhir kopi memang banyak digilai, tak perlu kami sebutkan satu per satu, Bung yang pecinta kopi tentu lebih paham.


Lupakan dulu kopi-kopi kekinian yang digandrungi para milenial, kali ini kami ingin mengajak Bung menikmati romansa kopi tradisional. Dan salah satu tempat kopi yang patut dilirik, ada di pinggiran barat Jakarta. Terpaku pada sentra kota, barangkali Bung juga belum tahu bila cuilan barat Jakarta punya beberapa tempat yang sanggup menemani diri menghabiskan tamat pekan. Dan salah satunya yaitu Kong Djie Kopi di Citra Garden City 6, Jakarta Barat.


Tapi kenapa harus Kong Djie Kopi Citra 6?


Jauh dari Hiruk Pikuk Kota, Bung Bisa Lebih Menikmati Rasanya


 nampaknya jadi sesuatu yang sulit kita hindari Berakhir Pekan dengan Kopi Tradisional


Lupakan dulu deretan kedai dan kafe yang menyediakan kopi dengan banyak sekali macam rasa di tengah-tengah kota. Kali ini kami memang ingin mengajak Bung menikmati kopi dengan suasana berbeda.


Terletak di deretan ruko di dalam perumahan Citra Garden City 6, hanya butuh 10-15 menit dari Cengkareng. Terletak sedikit nyempil, Bung yang pernah ke Belitung tentu sudah khatam dengan yang namanya Kong Djie.


Disebut-sebut sebagai Starbucknya Belitung, Kong Djie Kopi jadi salah satu tempat yang masih mempertahankan keotentikan cita rasa dan suasana ngopi semenjak tahun 1943. Siang itu sehabis hujan mengguyur pada pagi harinya, saya masuk dan pribadi disapa dengan suasana menyenangkan.


Meski dengan Harga yang Terbilang Cukup Murah, Bung Tak Perlu Ragu Soal Rasa


 nampaknya jadi sesuatu yang sulit kita hindari Berakhir Pekan dengan Kopi Tradisional


Di dalam komplek? Pasti Mahal!


Jadi ekspektasi pertama saya dikala memutuskan untuk membuka pintu tempat ini. Namun sehabis mencoba berkenalan dan ngobrol-ngobrol sebentar dengan sang pemilik, saya  merasa bersalah. Sebab ternyata harganya terbilang cukup murah.


Untuk jenis kopi hitam biasa Kong Djie hanya mematok harga 12 ribu rupiah, kopi susu 15 ribu dan beberapa varian lain yang dekat denga saku.


Dari beberapa tempat ngopi yang pernah saya datangi, ini jadi kedai kopi pertama yang terasa cukup murah. Lalu bagaimana soal rasa? Tentu akan sulit untuk dijelaskan. Karena Bung sendiri tentu paham, pengecap dan evaluasi setiap orang tentu tak sama.


Satu hal yang sanggup saya tangkap dari rasa kopi di sini yaitu cita rasa khasnya yang cukup berbeda, lengkap dengan cara penyajian yang juga kolam tempat asalnya. Dibuat dari adonan biji kopi Arabica dan Robusta, jadi perpaduan yang pas untuk rasanya. Ada pahit dengan elok yang menyeimbangkan rasa. Bahkan untuk Bung yang mungkin jadi pemula, kopi-kopi di sini sanggup jadi solusinya.


Dan Tak Perlu Jauh-jauh Ke Belitung, Sebab di Seputar Jakarta Sudah Ada Beberapa Cabangnya


 nampaknya jadi sesuatu yang sulit kita hindari Berakhir Pekan dengan Kopi Tradisional


“Nggak usah jauh-jauh ke Belitunglah sekarang, tinggal tiba kesini saja. Kopi dan beberapa makanannya juga tiba pribadi dari sana,” ujar Pak Wandi disela-sela obrolan. Sekedar informasi, Pak Wandi yaitu pemilik kedai yang saya kunjungi ini. Beliau menuturkan, bila kedainya yang ada di seputaran Jakarta memang telah menjadi waralaba, termasuk yang sedang saya datangi.


“Kalau yang udah pernah ke Belitung, niscaya sudah tahu Kong Djie. Kaprikornus nggak perlu dijelasin kalau udah tahu rasa niscaya ia berusaha untuk cari.” katanya menambahkan.


Siang itu, saya memang hanya mencoba kopi susu dan Mie Atep Belitung yang konon juga menjadi masakan khas dari sana. Untuk kopi saya sengaja menentukan kopi susu. Karena dari beberapa review, sajian ini yang menerima rating tinggi. Dan benar memang, rasa elok dan pahit yang tersaji jadi perpaduan baik untuk dinikmati.


Ciri Khas yang Masih Terbilang Tradisional Kaprikornus Pengalaman Lain yang Bisa Bung Dapatkan


 nampaknya jadi sesuatu yang sulit kita hindari Berakhir Pekan dengan Kopi Tradisional


Untuk Bung yang berniat tiba kesini, di cuilan depan kedai Bung akan disambut dengan jajaran termos almunium putih banyak sekali ukuran yang juga jadi landmark Kopi Kong Djie.


Dan di tempat asalnya, pada salah satu wawancara, Ishak anak kedua dari marga Ho pendiri kedai Kopi Kong Djie pernah berkata, bila dulu ceret-ceret tersebut tadinya terbuat dari baja, yang juga jadi ciri khas tempat kopi zaman dulu.


Bahkan untuk air panasnya, mereka mengaku masih memakai tungku arang namun tetap dibantu dengan tenaga gas, semoga aroma dan rasanya tetap keluar. Dan diam-diam lain dari cara pembuatan kopi Kong Djie yaitu air yang benar-benar mendidih.


Kesan Tradisional Memang Dekat dengan Para Orang tua, Tapi di Kong Djie Siapa Saja Bisa Minum Kopi dengan Suka-suka


 nampaknya jadi sesuatu yang sulit kita hindari Berakhir Pekan dengan Kopi Tradisional


Dari nama kedainya, Bung mungkin akan berpikir bila secara umum dikuasai peminum kopi yang tiba kesini yaitu para orang renta yang mungkin sudah lanjut usia. Saya pun tadinya berpikir sama.


Namun dikala masuk kedalam, ternyata pikiran saya salah. Seakan menguatkan pemikiran saya yang salah, Pak Wandi yang dengan suka hati menjawab semua pertanyaan saya berujar, “Di sini nggak cuma orang renta sih, kalau pagi mungkin iya. Itu mereka yang habis olahraga singgah, agak siangan sedikit ada beberapa orang yang bahkan ibu-ibu. Pada nungguin anaknya pulang sekolah, ke malam sekitar diatas jam tujuan mungkin bapak-bapak atau anak muda juga yang seusia 23 hingga 26 tahun lah,”


Sependapat dengan sang empunya kedai, balasannya saya pun oke bila Kong Djie jadi salah satu tempat yang tak terbatas untuk siapa saja. Bahkan mereka yang sudah memang tahu rasanya, konon sanggup tiba 1 hingga 3 kali dalam sehari.


“Bayangin aja nih, kita ada beberapa orang pelanggan yang sanggup dalam sehari tiba tiga kali. Udah kaya candu gitu. Dan itu bukan cuma pria saja, wanita juga ada. Kaprikornus bila satu kali aja dia ngerasa ada yang tak ibarat biasa, dia bakalan buru-buru protes. Ada yang kurang nih,” ungkap Pak Wandi.


Terlepas dari saya yang memang sedang ingin tahu seputar kedai kopi miliknya, saya rasa tempat dan pemiliknya memang jadi kombinasi yang pas untuk menikmati tamat pekan yang istimewa. Mereka dekat dengan pelanggan, pun sangat terbuka untuk mendengarkan beberapa komentar.


Bahkan salah satu pelanggan setianya, yang mengaku sudah pernah menikmati kopi di banyak sekali tempat di Indonesia mengakui bila rasa dari Kong Djie memang beda.


“Bukan berarti kopi di tempat atau kedai lain nggak enak, tapi feedback dari beberapa customer Kong Djie memang punya nilai dan nyawa sendiri. Tapi kami percaya sih, kalau setiap tempat di Indonesia memang punya kopi-kopi yang luar biasa.” ujar dia menutup obrolan.