Majelis Lucu Indonesia, Alasannya Ini Bukan Sekedar Lucu-Lucuan

Posted by Ganas003 on 22.19 in

Hanya ada dua tipe orang Indonesia ketika ini. Mereka yang sudah tahu Majelis Lucu Indonesia atau biasa disingkat MLI. Dan mereka yang akan tahu MLI. Pernyataan tersebut mungkin berlebihan. Tapi fenomena kelompok yang satu ini memang tak sanggup dianggap remeh.


Pesatnya perkembangan mereka di dunia digital mungkin tak sanggup dicapai dalam mimpi paling indah para master internet marketing sekalipun. Dalam hitungan kurang dari 3 bulan akun twitter @MajelisLucu sudah diikuti 27 ribu orang. Sementara Instagram @majelislucuindonesia sudah diikuti 32 ribu orang.


Pengikut mereka paling militan ada di youtube dengan 66 ribu subscriber. Mungkin angka subscriber ini belum semasif para youtuber yang muncul lebih dulu. Tapi kalau dilihat lebih detail, tiap video unggahan MLI rata-rata ditonton oleh ratusan ribu orang, jauh melebihi jumlah subscriber mereka.


Salah satunya bahkan sempat jadi trending topic di Indonesia. Prestasi yang keren alasannya yaitu video itu bertengger berbarengan sekaligus bersaing dengan video-video yang diliput media skala nasional macam masalah Abu Janda Vs Felix Siauw.


Tak cuma berangasan di dunia maya. Setiap show yang dibentuk MLI selalu diburu para penggemarnya. Terakhir yaitu show bertajuk Maha Lucu yang tiket pre sale-nya ludes dalam waktu kurang dari 20 menit. Lokasi show bahkan terpaksa dipindah alasannya yaitu antusiasme mereka yang ingin datang. Belakangan total tiket yang terjual lebih dari 1000 buah.


Tapi tak semua juga manis. Pilihan MLI untuk menempuh jalur komedi sarkastik, roasting bertabur kritik vulgar hingga kata-kata keras nan kasar beberapa kali membuat kuping sebagian orang panas. Walhasil pergesekan dengan pihak-pihak lain pun satu dua kali terjadi.


Wajar, alasannya yaitu jenis lawakan yang ditawarkan mereka ini sudah usang mangkir dari peta komedi Indonesia. Tak heran, banyak juga orang yang belum siap mendapatkan dan menjadi alergi. Tak main-main, Reza Pardede alias Coki salah satu founder kelompok ini bahkan menyebut: “kalau MLI tak hati-hati, maka diperkarakan ke pihak berwajib sejatinya tinggal menunggu waktu”.


Pernyataan itu kami dapatkan ketika menemui Coki di suatu sore. Secara kebetulan pula hari itu MLI sedang sedikit berselisih paham dengan salah satu pihak. Berikut cuplikan dialog kami dengan Coki.


Kemunculan yang begitu cepat bikin sebagian orang galau apa bahwasanya MLI itu. Bisa jelaskan?


Hanya ada dua tipe orang Indonesia ketika ini Majelis Lucu Indonesia, Karena Ini Bukan Sekedar Lucu-Lucuan


Secara sederhananya kami di MLI hanya ingin menawarkan alternatif tontonan komedi untuk masyarakat Indonesia. Selama ini kita (orang Indonesia-Red) hanya disuguhkan jenis komedi yang itu-itu saja. Bosen khan contohnya hanya lihat orang dilempar tepung dan harus kita tertawakan. Atau teladan lain, lucu itu harus pakai agresi terpleset atau colok-colok mata. Tapi masalahnya di televisi dan sebagian panggung ya memang hanya ada yang ibarat itu. Nah, MLI hadir untuk menjawab situasi tersebut.


Terlihat sederhana tapi memperbaiki hal tersebut tampak ibarat kiprah besar. Siapa bahwasanya orang-orang yang mau melaksanakan itu?


Awalnya MLI cuma sebuah akun yang dibentuk secara iseng oleh Tretan Muslim. Teman kita yang satu itu di bulat pertemanan memang gemar menilai joke-joke mitra lain lucu atau tidak. Beberapa waktu kemudian Tretan bertemu saya (Coki-Red) dan Joshua Suherman. Baru kemudian berkumpul dengan total 12 orang.


Yang semula hanya menilai joke-joke kawan, jadi diperlebar ke orang lain. Karena banyak juga di dunia maya yang selama ini merasa dirinya lucu tanpa ada pihak lain yang menilai. Follower-nya pasrah saja mengikuti bercandaan yang sesungguhnya tidak lucu.


Kami (dalam MLI disebut Hakim), memberanikan diri untuk menilai mana joke yang memang lucu dan mana yang sampah. Dan ternyata banyak orang yang suka dan merasa terwakili dengan evaluasi kami.


Nah, bicara soal hakim dan menghakimi bahkan hingga menyebut sampah terhadap jokes orang lain, banyak pihak mempertanyakan dapat dipercaya MLI. Siapa MLI merasa diri sanggup menilai lucu tidaknya sebuah lelucon?


Hanya ada dua tipe orang Indonesia ketika ini Majelis Lucu Indonesia, Karena Ini Bukan Sekedar Lucu-Lucuan


Justru kami sadar penuh kok bahwa jokes, lawakan itu sifatnya sangat subjektif. Yang lucu buat kami belum tentu lucu buat orang lain dan begitu juga sebaliknya. Bersandar dengan kesadaraan ini kalau ditanya apa dapat dipercaya kami memberi cap sampah ke jokes orang lain, ya jawabannya, sampah itu berdasarkan subjektivitas kami. Silahkan terima boleh juga tidak.


Anehnya ada pihak yang tidak sanggup terima evaluasi kita. Padahal kalau dilihat follower si orang-orang itu jauh lebih banyak. Dan reaksinya serta komentar para followernya juga bilang lucu. Seharusnya ya sudah, mereka sanggup konsentrasi saja ke 30 ribu orang yang bilang lucu, abaikan saja evaluasi kami. Siapalah MLI yang cuma sedikit orang ini.


Tapi faktanya memang tak sesederhana itu bukan? Pengikut MLI jauh lebih militan. Ketika MLI menilai sampah sebuah jokes, pengikut MLI mendatangi akun tersebut dan menyerbu dengan perkataan sampah atau tidak lucu di akun bersangkutan. Bagaima MLI menanggapi ini?


Hanya ada dua tipe orang Indonesia ketika ini Majelis Lucu Indonesia, Karena Ini Bukan Sekedar Lucu-Lucuan


Iya itu tidak sanggup dipungkiri. Kami menyadari sedang melahirkan para “monster”. Karena sedari awal MLI menggaungkan freedom of speech. Kaprikornus semua orang sanggup menyuarakan pendapatnya. Kami sendiri sudah ada sedikit “kengerian” dan paham resikonya kalau kami tidak lucu, fans kami akan gampang menyampaikan sampah.


Tapi berdasarkan kami hal itu diharapkan antara selebritas dan fans. Supaya tetap ada fungsi kontrol. Mungkin kawan-kawan komunitas lain, konten kreator atau komika lain belum terbiasa dengan fans yang jujur ibarat ini.


Namun MLI sedari awal juga berusaha meminimalisir serangan pengikut MLI ke pribadi orang lain. Kami berusaha membuat jaring pengaman dengan selalu menjelaskan kepada pengikut MLI bahwa yang kita nilai itu karyanya. Kami tidak pernah mendiskreditkan orangnya. Kaprikornus jangan serang orangnya.


Tapi kalau karyanya? Menurut saya pribadi sebuah karya itu memang sudah sewajarnya dikritisi. Apalagi dengan mengunggahnya ke sosial media, seharusnya orang itu siap juga untuk karyanya dikritik.


Bicara soal karya, sanggup ceritakan soal roasting yang tampaknya jadi agenda andalan MLI? (Roasting yaitu jenis komedi dimana ada satu orang yang sifat, perilaku, karya dan faktor lain dalam dirinya, dijadikan materi lawakan oleh lawannya-Red)



Iya, agenda terakhir kemarin, kami sanggup antusiasme cukup tinggi dari pengikut MLI. Hanya dalam 20 menit tiket pre sale berhasil terjual dan totalnya ada 1000 tiket yang terjual. Acara itu bentuknya bahwasanya kompetisi komedi dan malah bukan roasting. Bisa dibilang hal ibarat itu pertama kali di Indonesia. Orang bersedia membayar untuk menonton kompetisi komedi. Dan ternyata orang mau dan antusias.


Tapi bahwasanya Majelis Lucu Indonesia tetap agenda andalannya roasting. Acaranya lebih intim dengan jumlah orang yang terbatas. Tiketnya pun terperinci lebih mahal dari agenda kemarin itu. Kenapa harus lebih mahal? Karena kami juga ingin menseleksi penonton yang akan hadir. Karena komedi roasting itu keras, penuh kritik dan vulgar. Kalau yang tidak berpengaruh dan tak terbuka pikirannya lebih baik tidak hadir.


Ada yang bilang, komedi roasting itu tak sesuai moral ketimuran. Kekurangan orang kok dibicarakan dan dicela-cela. Ada pendapat mengenai hal ini?



Kami mengundang pribadi orang yang akan kami roasting. Semua materi atas persetujuan yang bersangkutan. Mereka yang akan diroasting boleh menentukan lebih dulu mana yang sanggup disentuh dan mana yang tidak.


Contohnya ketika roasting Bayu Skak. Dia bilang untuk tidak menyentuh ranah keluarga terutama orang tuanya. Kami menghargai itu dan bicarakan dengan mereka yang akan menjadi roaster (komika yang naik panggung membicarakan sang tamu-Red). Ada juga contohnya tamu lain yang bilang beliau tak mau gosip A, B, C, D tentangnya disinggung. Kami pun tertib melaksanakan itu.


Lagi pula sesungguhnya, mereka yang kami roasting yaitu mereka yang kami berikan respect. Buat apa meroasting orang yang bukan siapa-siapa. Selain itu berdasarkan kami cara paling sempurna untuk mengatasi kekurangan, kesalahan, kekeliruan yaitu dengan meng-embrace-nya dan mengakuinya. Kaprikornus buat orang yang bersedia di roasting bahwasanya itu membantu si orang tersebut mengatasi problemnya.


Tapi kontennya juga tidak terbatas orang yang diroasting, kadang melebar hingga kritik sosial, politik dan orang lain di luar itu bukan?


Hanya ada dua tipe orang Indonesia ketika ini Majelis Lucu Indonesia, Karena Ini Bukan Sekedar Lucu-Lucuan


Betul dan itu menjadi bagiannya. Kita tidak pernah takut dengan segala konten yang ada di panggung roasting kami dengan penonton tertutup. Penonton kita sudah sangat cerdas dan paham mereka membeli tiket untuk apa.


Setiap show, kami juga menerapkan no camera policy alias dihentikan merekam show kami apapun alasannya. Ini untuk meredam ekses yang tidak perlu. Ketika show tersebut risikonya kami naikan di youtube, kontennya sudah mengalami banyak penyuntingan serta sensor. Kaprikornus sanggup dibilang sudah sangat kondusif untuk konsumsi umum.


Kami justru mengkhawatirkan konten-konten di channel yang lain, terutama twitter. Kadang kami sebagai admin juga terbawa suasana. Walhasil ada juga konten-konten yang tegas menyinggung orang lain. Kalau MLI tak hati-hati, maka diperkarakan pihak berwajib sejatinya tinggal menunggu waktu. Ntah, alasannya yaitu pencemaran nama baik atau masalah lainnya.


Tapi sedari awal kita semua sudah menyadari hal itu. Karenanya saya dan muslim tidak pernah mau kalau Majelis Lucu Indonesia itu dikaitkan dengan Coki atau Tretan Muslim saja. MLI yaitu 12 orang itu. Kaprikornus kalau pun kita berakhir di pihak berwajib, dipenjaranya rame-rame…hahaha…


Melihat pesatnya perkembangaan MLI, apa bahwasanya ada taktik marketing khusus?


Strategi khusus bahwasanya juga tidak ada. Kami hanya berusaha jujur dengan kegelisahan kami sendiri. Dan ternyata banyak juga yang merasa terwakili. Mungkin itu yang membuat kita cepat diterima.


Misalnya ada satu seleb instagram yang selama ini menerima respon positif dan dibilang lucu oleh sekian ribu followernya. Sebetulnya ada yang merasa si seleb itu tak lucu tapi tidak berani menyuarakan atau menentukan tak peduli.


Ketika MLI berani menyatakan karya si seleb itu sampah, mereka yang semula tak peduli jadi merasa terwakili. Iya bener, si bedebah ini tidak lucu sampah! Begitu yang terjadi.


Dari titik ini, kemana MLI akan dibawa?


Hanya ada dua tipe orang Indonesia ketika ini Majelis Lucu Indonesia, Karena Ini Bukan Sekedar Lucu-Lucuan


Wah, kita juga belum apa-apa sebetulnya. Karena tujuan besarnya yaitu memperbaiki situasi komedi di Indonesia. Kita sudah terlalu usang disajikan dengan jokes-jokes receh yang tersedia gratis di televisi. Jadinya banyak orang mempertanyakan ketika harus membayar untuk menonton sebuah pertunjukan komedi.


Hasilnya? Sulit buat pelawak untuk hidup dari menjadi komedian. Mungkin pelawak sanggup hidup dengan menjadi host, pemain film, dan lainnya. Tapi dengan menjadi pelawak sangat sulit. Inilah yang pelan-pelan kita coba perbaiki.


Karena menjadi pelawak itu butuh kerja keras dan tidak murah. Penyanyi misalnya, tak duduk kasus menyanyikan lagu yang sama berulang-ulang selama bertahun-tahun. Sementara komedian? Satu kali jokesnya didengar lucu sekali. Dua kali jokes yang sama, kelucuannya berkurang. Ketiga kali? Besar kemungkinan sudah tak lucu. Karena komedi itu harus ada unsur kejutannya. Kaprikornus pelawak dituntut untuk mencari materi gres non stop dan itu tidak murah.


Kalau bicara Majelis Lucu Indonesia sendiri? Banyak hal yang sanggup dilakukan. Dari menjual merchandise hingga menjadi konsultan komedi untuk film, cerita, show dan sebagainya. Sedari awal kami menyebut diri kami kapitalis tanpa ditutup-tutupi. Kaprikornus jangan kaget kalau kami bicara uang dan keuntungan.


Dan alasannya yaitu kami memulainya dari komedi, semua hal jadi terasa masuk akal untuk kami lakukan dan sanggup diterima para pengikut MLI. Kami pernah coba menjual kerikil bata secara satuan dengan cap MLI. Ternyata banyak yang bersedia untuk membeli.


Terakhir ini kami menjual sarung MLI. Kalau dipikir secara rasional, mereka mau pakai sarung MLI kemana sih? Tapi ternyata ya ada yang mau beli. Karena ini komedi, kami lebih bebas melaksanakan apa saja. Perjalanan masih panjang.